Kamis, 10 November 2022

REVIEW DRAMA KOREA GOLDEN SPOON (2022)

 


“Menjadi miskin adalah dosa.”

Salah satu kalimat yang muncul di webtoon Lee Cheol (ayah Seungchon) ini cukup menohok dan menggambarkan betapa seriusnya masalah kemiskinan di Korea.

Di drama ini, kemiskinan diceritakan sebagai akar berbagai masalah: factor bunuh diri, bullying, dan objek permainan situasi & kondisi. Premis ini cukup menarik, apalagi didukung dengan kemasan genre fantasi. Kita akan melihat berbagai pergolakan batin yang berhubungan dengan kemiskinan, bagaimana cara bertahan hidup, dan setega apa Lee Seungchon ‘menukar orang tuanya’ setelah menyadari bahwa kehidupannya betul-betul tidak mudah.



Drama ini memang agak berat karena isu yang diangkat di dalamnya juga cukup relate. Tapi gak perlu khawatir, drama ini alurnya sangat mudah dipahami dan gercep. Kita gak akan dibiarkan lama menunggu aksi apa yang akan dilakukan tokoh utamanya.

Drama dengan durasi 1 jam 20 menit ini sangat worth it ditonton. Sinematografi mereka apik dan bermain. Kalau dicermati dengan baik, suasana rumah Taeyong dan Seungchon waktu bareng keluarga relative sama-sama suram. Kenapa bisa gitu? Ya karena sebenarnya mereka sama-sama kekurangan.

Konflik-konflik lain pun juga beermunculan menyanding konflik tokoh utama yang semakin kompleks. Tanpa disadari, hal-hal ini memicu kita untuk ikut mewaspadai plot twist yang mungkin akan hadir seperto sulap alias bisa bikin terkejut.

Hampir semua tokoh di Golden Spoon punya masalah sama keluarga. Bahkan si Janggun tukang bully pun ada masalah sama keluarga dia, terutama bapaknya. Selaain kemiskinan, sepertinya isu salah asuhan pun jadi poin penting yang ingin disorot



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW DRAMA KOREA SQUID GAME

  Udah tau kan drakor yang beberapa waktu yang lalu pernah hits banget dan jadi serial terpopuler di Netflix? Drakor ini bercerita tentang...