“Menjadi miskin adalah dosa.”
Salah satu kalimat yang muncul di webtoon Lee Cheol (ayah
Seungchon) ini cukup menohok dan menggambarkan betapa seriusnya masalah
kemiskinan di Korea.
Di drama ini, kemiskinan diceritakan sebagai akar berbagai
masalah: factor bunuh diri, bullying, dan objek permainan situasi &
kondisi. Premis ini cukup menarik, apalagi didukung dengan kemasan genre fantasi.
Kita akan melihat berbagai pergolakan batin yang berhubungan dengan kemiskinan,
bagaimana cara bertahan hidup, dan setega apa Lee Seungchon ‘menukar orang
tuanya’ setelah menyadari bahwa kehidupannya betul-betul tidak mudah.
Drama ini memang agak berat karena isu yang diangkat di
dalamnya juga cukup relate. Tapi gak perlu khawatir, drama ini alurnya sangat
mudah dipahami dan gercep. Kita gak akan dibiarkan lama menunggu aksi apa yang
akan dilakukan tokoh utamanya.
Drama dengan durasi 1 jam 20 menit ini sangat worth it
ditonton. Sinematografi mereka apik dan bermain. Kalau dicermati dengan baik,
suasana rumah Taeyong dan Seungchon waktu bareng keluarga relative sama-sama
suram. Kenapa bisa gitu? Ya karena sebenarnya mereka sama-sama kekurangan.
Konflik-konflik lain pun juga beermunculan menyanding
konflik tokoh utama yang semakin kompleks. Tanpa disadari, hal-hal ini memicu
kita untuk ikut mewaspadai plot twist yang mungkin akan hadir seperto sulap
alias bisa bikin terkejut.
Hampir semua tokoh di Golden Spoon punya masalah sama
keluarga. Bahkan si Janggun tukang bully pun ada masalah sama keluarga dia, terutama
bapaknya. Selaain kemiskinan, sepertinya isu salah asuhan pun jadi poin penting
yang ingin disorot



Tidak ada komentar:
Posting Komentar